Senin, 26 November 2012

sang sabda

                                                                             jojomityeang:

KEMISKINAN

KEMISKINAN
(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Senin, 26 November 2012)
Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Leonardus dr Porto Mauritio, Imam
Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua uang tembaga, ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan seluruh nafkah yang dimilikinya.” (Luk 21:1-4)
Bacaan Pertama: Why 14:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6
Dalam bacaan Injil hari ini, lagi-lagi kita melihat berkat dari kemiskinan dan kutuk atas kekayaan. Janda yang miskin itu sungguh mengasihi Allah karena dia memberikan kepada Allah segala yang dimilikinya. Akan tetapi, orang-orang kaya yang memberi persembahan dari kelimpahan mereka tidak memahami apa artinya cinta-kasih.
Siapa saja yang berurusan dengan pemberian “sedekah” untuk tujuan karitatif dapat menceritakan kepada anda tentang adanya paradoks yang “aneh” dalam hal pemberian berdasarkan kehendak bebas manusia. Berbagai angka statistik gerejawi di dunia Barat menunjukkan bahwa yang memberi paling banyak sumbangan bagi Gereja dan/atau untuk kegiatan-kegiatan karitatif lainnya bukanlah orang-orang kaya, melainkan mereka yang dikategorikan sebagai orang-orang kecil-miskin. Ternyata justru mereka yang miskinlah yang mempunyai share yang jauh lebih besar. Tentu saja ada kekecualian, namun siapa saja yang berpengalaman dalam hal ini akan mengatakan bahwa orang-orang miskin dan berkekurangan-lah yang memberikan dengan kemurahan-hati. Hal ini ternyata belum pernah berubah sejak Yesus mengamati kemurahan-hati sang janda miskin di Bait Suci. Bukankah hal ini merupakan alasan yang jelas mengapa terjadi kesenjangan yang besar antara orang kaya dan miskin di seluruh dunia? Seandainya orang-orang kaya memiliki kasih yang proporsional dengan kemurahan-hati begitu banyak saudari-saudara mereka yang miskin, maka kita dapat membayangkan betapa banyaknya penderitaan manusia dapat teratasi.
Dengan demikian, tidak mengherankanlah kalau kita membaca dalam Injil, bahwasanya Yesus begitu sering berbicara dengan kata-kata yang keras tentang bahayanya kekayaan. Dan juga tidak mengherankanlah jika Yesus selalu menunjukkan preferensinya pada orang-orang miskin. Ini pun bukan merupakan sesuatu hal yang baru. Dalam Perjanjian Lama, Allah menunjukkan kasih-Nya yang istimewa bagi orang-orang miskin, mereka yang terbuang, yang menderita, yang membutuhkan. Cerita besar tentang “pembebasan orang-orang Israel dari perbudakan di Mesir” (Keluaran/Exodus) adalah cerita mengenai belas kasih Allah dan kebaikan hati-Nya bagi orang yang ditindas dan diperbudak. Kitab Mazmur merupakan testimoni tentang kasih Allah bagi orang-orang miskin, mereka yang dilupakan, orang yang tidak dipedulikan oleh siapa pun. Jadi, “preferential option for the poor” sebenarnya bukanlah barang baru yang diciptakan oleh Gereja abad ke-20 karena sudah merupakan warisan bagi kita dari Allah sendiri.
Yesus sendiri memilih hidup dalam kemiskinan. Allah memilih Maria yang miskin dan rendah hati sebagai Ibu bagi Yesus. Santo Fransiskus dari Assisi mengajarkan kepada para pengikut rohaninya, bahwa setiap kali mereka melihat orang miskin, mereka sebenarnya melihat Yesus dan Maria yang hidup miskin. Yesus memilih para rasul-Nya dan murid-Nya dari tengah-tengah orang miskin. Mayoritas dari para sahabat-Nya dan pengikut-Nya adalah orang-orang miskin, dan banyak dari para murid-Nya yang kaya membuat diri mereka miskin, agar dapat meniru perikehidupan sang Guru.
DOA: Roh Kudus Allah, selidikilah hatiku dan bentuklah aku agar menjadi seorang pribadi yang mau dan mampu menghayati hidup kemiskinan sejati seperti dicontohkan oleh Yesus Kristus, Guru, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Why 14:1-5), bacalah tulisan yang berjudul “SEBAGAI ANAK-ANAK DOMBA YANG LEMBUT KITA MELAYANI YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 26-11-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2012.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “PERSEMBAHAN SEORANG JANDA MISKIN” (bacaan tanggal 21-11-11) dalam situs/blog SANG SABDA, dan “JANDA ITU MEMBERI DARI KEKURANGANNYA” (bacaan tanggal 21-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 15 November 2011 [Pesta Wafatnya B. Marie de la Passion, Pendiri FMM]
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SURAT KEPADA PARA PENGUNJUNG SITUS/BLOG “SANG SABDA” DAN “PAX ET BONUM” BERKAITAN DENGAN “HARI RAYA KRISTUS RAJA’

Saudari dan Saudari yang dikasihi Kristus,
Perihal: HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA
Pada hari ini, Minggu tanggal 25 November, Gereja merayakan “Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta” (“Hari Raya Kristus Raja”). Perayaan yang dimaksudkan untuk menghormati dan memuliakan Yesus Kristus sebagai Raja Semesta ini ditempatkan pada hari Minggu terakhir tahun liturgi, sehingga dengan demikian kita dapat secara publik mendeklarasikan kesetiaan kita kepada-Nya dan mengikuti-Nya ke dalam masa Adven yang baru. Sebagai umat Kristiani, kita diundang untuk menggantungkan pengharapan dan mimpi kita pada Kristus sang Raja. Dia adalah “Jalan” kepada kemenangan atas maut; “Kebenaran”, karena Dia adalah saksi yang dapat dipercaya; dan “Kehidupan”, sekarang dan selama-lamanya (bdk. Yoh 14:6).
Sudah begitu banyak kata yang diucapkan dan ditulis untuk menjelaskan Yesus Kristus kepada dunia, namun tetap saja banyak orang tidak mampu memahami Siapa diri-Nya dan memaknai secara mendalam misi-Nya di tengah dunia. Sebagai kontras, dapat saya katakan bahwa terkadang sepotong kalimat dalam Kitab Suci dapat sungguh mencerahkan tentang Raja kita ini. Dari bacaan kedua Misa Kudus hari ini, misalnya, kita membaca: “Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini” (Why 1:5). Pernyataan Yohanes penulis Kitab Wahyu ini mengemukakan tiga kebenaran dasariah dengan menggunakan 20 kata saja dalam bahasa Indonesia. Tiga kebenaran yang sangat mendasar ini baik untuk kita renungkan, kita kontemplasikan pada “Hari Raya Kristus Raja” ini.
1. Yesus Kristus adalah Saksi yang setia. Yesus menyampaikan realitas-realitas yang telah Ia lihat namun belum kita lihat. Ia telah memberi kesaksian tentang Allah Tritunggal Maha Kudus (Trinitas), memproklamasikan Kerajaan Surga dan mewartakan tentang suatu hidup penuh kemuliaan tanpa akhir. Melalui kematian-Nya, Yesus telah memberi kesaksian tentang realitas transenden dari kasih dan pengampunan. Walaupun tidak mampu memahami secara mendalam hal-hal ini dan ajaran-ajaran spiritual lainnya, kita tetap percaya karena kenyataan bahwa Yesus adalah Saksi yang setia.
2. Yesus Kristus adalah yang pertama bangkit dari antara orang mati. Dalam kemenangan-Nya atas kubur-maut, Yesus memproklamasikan kebenaran dari kebangkitan badan. Lewat peristiwa yang sungguh luarbiasa ini, Yesus menunjukkan bagaimana kehidupan itu berlanjut dari dunia ini ke “dunia” selanjutnya, di mana maut tidak lagi dapat menyentuh kita. Selagi kita semua hari demi hari semakin dekat dengan kematian, kita dapat berjalan mendekati maut itu dengan penuh keyakinan yang diiringi semangat meluap-luap. Tuhan Yesus telah mengalahkan kubur-maut dan berjanji bahwa hal yang sama akan terjadi bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya. Ia yang pertama bangkit dari antara orang mati adalah model inspirasi bagi kita semua yang lahir ke dalam waktu dan keabadian. Yesus telah berjalan di dunia yang penuh ketidakpastian, dan mencabut sampai ke akar-akarnya tanda-tanda kematian, lalu Dia membangun sebuah jembatan yang membuka jalan kepada Kerajaan-Nya yang kekal-abadi.
3. Yesus Kristus adalah yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Ia memerintah sebelum raja yang manapun, dan pada saat semua raja akan menghilang dari sejarah, Kristus sang Raja akan tetap berdiri dengan kokoh selama-lamanya. Sejarah menunjukkan bahwa ada raja-raja yang lemah, ada raja-raja yang kuat, namun tidak ada raja kecuali Yesus Kristus yang sungguh Mahakuasa. Dia adalah ‘seorang’ Raja yang tak tertandingi dalam hal kasih, kesabaran, pengampunan, hikmat, dan segalanya yang baik.
Kristus sang Raja dimaksudkan untuk mengatur kehidupan kita dan harus menempati posisi yang pertama dan utama dalam kehidupan kita (lihat Kol 1:15-20; Ef 1:3-14). Sekarang, dalam TAHUN IMAN ini, apakah kita masih memandang dan menyembah Yesus yang penuh kemuliaan di tempat-Nya yang tertinggi itu? Apakah kita harus mengakui bahwa sesungguhnya diri kita sudah sekian lama “diatur” oleh kuasa-kuasa yang non-ilahi, seperti keserakahan, kerakusan, nafsu, dendam, kebencian, dan segala sikap dan perilaku yang berpusat pada kepentingan diri sendiri, dan bukan berpusat kepada Allah? Kalau begitu halnya, apa yang telah kita lakukan terhadap diri Yesus Kristus? Seperti orang banyak yang menyaksikan “pengadilan dagelan” atas diri-Nya sekitar 2000 tahun lalu, kehidupan kita dapat merupakan seruan keras ke tengah dunia: “Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!” Dan seperti para imam kepala, kita juga berteriak keras-keras: “Kami tidak mempunyai raja selain Kaisar!” (Yoh 19:15).
Sebaliknyalah sikap dan perilaku yang ditunjukkan oleh para kudus semasa hidup mereka di dunia. Bagi mereka Yesus Kristus senantiasa merupakan pusat kehidupan mereka, Yesus senantiasa menjadi yang pertama dan utama! Santo Fransiskus dari Assisi; Santa Klara dari Assisi; Santo Bonaventura; Beato Yohanes Dun Scotus; Santo Ludovikus IX, raja Perancis; Santa Elisabet dari Hungaria, ratu; Santa Elisabet dari Portugal, ratu; Santo Thomas More, Lord High Chancellor (semacam Perdana Menteri) dari kerajaan Inggris; dan banyak lagi. Ada cerita menarik tentang orang kudus yang paling akhir disebutkan namanya di atas.
Pada suatu hari, ketika Thomas More sedang menghadiri Misa Kudus, seorang petugas istana mendekatinya dan berbisik kepadanya: “Tuanku, Sri Paduka Raja menginginkan agar Tuanku menghadap beliau dengan segera.” Thomas More menjawab: “Aku tidak dapat menghadap sekarang. Katakanlah kepada Sri Paduka Raja, bahwa aku sedang menghadap seorang Raja yang lebih besar daripadanya. Begitu tugas-kewajibanku kepada Raja yang lebih besar ini selesai, aku akan langsung menghadap Sri Paduka Baginda.” Petugas istana itu pun pergi dan Thomas More, sang Lord High Chancellor, melanjutkan doa-doanya dengan khusyuk sampai Misa Kudus berakhir. Santo Thomas More memandang Yesus Kristus sebagai Raja segala raja (Bahasa Inggris: King of kings). Singkat cerita: Orang kudus ini mati dipenggal kepalanya karena kesetiaannya kepada Kristus sang Raja melebihi kesetiaannya kepada Raja Henry VIII.
Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus,
Selamat merayakan “Hari Raya Kristus Raja” dan selamat bersiap-siap memasuki Masa Adven! Berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertai anda sekalian!
Cilandak, 25 November 2012
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENGUASA SEBUAH KERAJAAN KEADILAN, DAMAI DAN KASIH

PENGUASA SEBUAH KERAJAAN KEADILAN, DAMAI DAN KASIH
(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA – Minggu, 25 November 2012)

Pilatus masuk kembali ke dalam istana gubernur, lalu memanggil Yesus dan bertanya kepada-Nya, “Apakah Engkau raja orang Yahudi?” Jawab Yesus, “Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri, atau orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang aku?” Kata Pilatus, “Apakah aku seorang Yahudi? Bangsa-Mu sendiri dan imam-imam kepala yang telah menyerahkan Engkau kepadaku; apakah yang telah Engkau perbuat?” Jawab Yesus, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.” Lalu kata Pilatus kepada-Nya, “Jadi engkau adalah raja?” Jawab Yesus, “Engkau mengatakan bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku bersaksi tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.” (Yoh 18:33-37)
Bacaan Pertama: Dan 7:13-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 93:1-2,5; Bacaan Kedua: Why 1:5-8
Bagi kebanyakan kita yang hidup dalam masa modern ini di mana bentuk pemerintahan monarki tinggal sedikit sekali yang masih bertahan di dunia, maka bayangan kita tentang seorang raja dan kerajaan hampir pasti akan tidak tepat. Bahkan orang-orang pada zaman Yesus dahulu juga tidak mempunyai ide yang sangat jelas, karena mereka membandingkan Yesus dan Kerajaan-Nya dengan pengalaman mereka sendiri. Hal seperti itu kiranya sama saja dengan membandingkan pesawat terbang ukuran Jumbo (misalnya Boeing 747) dengan pesawat terbang kecil-sederhana yang dipiloti oleh Wright bersaudara di tahun 1903. Orang-orang harus membuat sebuah lompatan yang luarbiasa dalam pemikiran mereka sebelum dapat mulai memahami apa yang sesungguhnya dimaksudkan oleh Yesus ketika Dia berbicara mengenai raja dan kerajaan.
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus melihat bahwa Pilatus tidak mampu untuk membuat lompatan luarbiasa yang dimaksudkan di atas. Pilatus bertanya: “Apakah Engkau raja orang Yahudi?” Di sini Pilatus hanya berpikir mengenai orang yang menjadi pemimpin militer atau politik, seorang pribadi yang mempunyai kemungkinan menjadi suatu ancaman bagi otoritas Romawi di Palestina. Yesus menjawab: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini.” Di sini Yesus ingin menjelaskan bahwa diri-Nya bukanlah seorang raja sebagaimana dibayangkan oleh Pilatus, yaitu seorang penguasa yang para pengikutnya akan berjuang untuk membelanya sebagai serdadu dalam sebuah peperangan atau yang domain-nya terbatas pada sebuah bangsa/negeri saja.
Tentu saja Yesus mempunyai suatu domain (dalam arti wilayah kekuasaan), yaitu sebuah kerajaan universal karena Dia memiliki otoritas atas seluruh ciptaan. Domain-Nya adalah sebuah Kerajaan kebenaran dan hidup, sebuah Kerajaan kekudusan dan rahmat, sebuah Kerajaan keadilan, kasih dan damai-sejahtera. Hal ini tentu kedengarannya sebuah kerajaan yang cocok untuk Yesus Kristus, namun terasa sangat idealistis dan bersifat futuristik yang kiranya hanya akan terwujud kelak di dalam surga. Sampai titik tertentu evaluasi seperti ini sah-sah saja. Kerajaan yang sempurna masih akan datang, dan kita adalah orang yang menanti-nanti dengan pengharapan penuh sukacita akan kedatangan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Yesus pasti akan datang lagi pada akhir zaman, Akan tetapi, kita harus sungguh-sungguh meyakini bahwa akhir dunia tidaklah berarti suatu malapetaka, melainkan suatu pemenuhan. Kalau kita mengatakan bahwa sebuah bangunan rumah sudah selesai dan pekerjaan membangun sudah selesai juga, maka hal ini bukanlah berarti destruksi melainkan penyempurnaan. Inilah kiranya akhir ke mana dunia kita dan tentunya seluruh alam semesta akan dibawa.
Sekarang ini kondisi Kerajaan serupa dengan seorang anak yang memerlukan pertumbuhan sampai menjadi seorang pribadi yang matang, yang telah bertumbuh penuh untuk menjalani kehidupan. Kristus akan datang untuk meng-klaim Kerajaan-Nya dan menyampaikannya kepada Bapa-Nya pada saat penyempurnaan Kerajaan itu dalam rencana ilahi telah tercapai. Sementara itu kita seharusnya tidak duduk-duduk santai sambil mengharapkan Raja kita melaksanakan pekerjaan ini sendiri. Tidak seorang pun dari kita merupakan “pion” seperti dalam permainan catur; kita semua adalah anak-anak Bapa di surga, suatu umat yang dipisahkan, sebuah bangsa terpilih, imamat rajani (lihat 1Ptr 2:9). Kita dipanggil untuk menjadi mitra-kerja yang dekat-erat dengan sang Raja dalam membangun Kerajaan itu agar dapat mencapai apa yang dicita-citakan. Kita tidak boleh mengharapkan Kristus untuk menggantikan dunia kita yang sekarang ini dengan – katakanlah – sejenis firdaus yang pra-fabrikasi (Inggris: prefabricated). Kita sendiri juga harus bekerja untuk dunia yang lebih baik, yang siap dan cocok untuk sepenuhnya berada di bawah pemerintahan Allah sebagai sebuah Kerajaan keadilan, kasih dan damai-sejahtera.
Walaupun kita harus realistis terhadap banyak ketidaksempurnaan dunia kita dan masyarakat kita, sikap pesimistis bukanlah merupakan sikap yang layak bagi seorang Kristiani dan apatisme sungguhlah tragis. Seorang Kristiani tidak boleh mengabaikan tugasnya untuk turut serta memperbaiki kondisi dunia agar menjadi lebih baik. Waktu “kini” haruslah menjadi dinamisme, pengharapan dan antusiame yang luarbiasa. Akan tetapi, di manakah kita harus memulainya? Marilah kita melihat pokok yang berikut ini.
Karena kita percaya bahwa Kristus adalah Penguasa dari segenap ciptaan, maka gerakan ekologis/pelestarian lingkungan dst. – walaupun penuh dengan berbagai komplikasi – secara fundamental adalah sebuah gerakan Kristiani. Dengan demikian kita harus secara aktif mengambil bagian dalam program-program ekologis, baik yang kecil-kecilan maupun yang berskala relatif besar. Keikut-sertaan kita haruslah didasarkan pada perspektif Kristiani bahwa Allah telah menyerahkan segala sumberdaya dunia ini ke tangan kita manusia agar digunakan secara pantas dan layak, tidak disalahgunakan karena tujuan-tujuan yang bermotifkan keserakahan dan ketamakan kita. Sebagian dari perspektif ini adalah kebenaran bahwa bumi dan segala sumberdayanya dimaksudkan oleh sang Pencipta untuk menolong umat manusia memenuhi tujuannya, yaitu kesejahteraan manusia.
Patut dicatat di sini, bahwa ekologi bukanlah masalah terbesar dunia kita. Karena Kerajaan Kristus adalah Kerajaan keadilan, kasih dan damai-sejahtera, maka halangan-halangan terbesar bagi pertumbuhannya menuju kesempurnaan adalah (1) ketidakadilan, (2) kebencian dan (3) peperangan. Ketiganya di sana-sini dibumbui dengan “kebohongan-kebohongan” dan setiap hari ditayangkan oleh banyak stasiun televisi Tiga jenis kejahatan ini sungguh luarbiasa sehingga kita sebagai pribadi seringkali merasa tak berdaya untuk melawan semua itu. Kita harus mengingat bahwa apabila setiap orang merasa tak berdaya, maka benar-benar tidak akan ada yang dapat dicapai …… dalam bahasa kerennya: tidak ada achievement. Misalnya, kita tidak pernah boleh merasa tidak dapat/mampu melakukan apa-apa ketika melihat ketidakadilan dalam dunia ini atau ketidakadilan dalam pemilikan harta-kekayaan, namun dalam kehidupan ini kita dapat mencoba untuk menghargai semua orang tanpa kecuali, dan kita dapat menjadi lebih bermurah-hati dan tidak besikap serakah berkaitan dengan hal-hal bersifat materi yang telah diberikan Allah kepada kita. Barangkali memang kita tidak dapat menghentikan peperangan, namun pada dirinya peperangan adalah ekspansi terburuk dari kebencian antara individu-individu. Apa yang dapat kita lakukan adalah bekerja untuk adanya kasih dan damai-sejahtera dalam keluarga kita sendiri dan dengan orang-orang yang kita jumpai sehari-hari. Salam damai kita dalam Misa – terkadang diungkapkan dengan saling cipika-cipiki – adalah sesuatu yang mengingatkan kita bahwa Kristus memanggil kita untuk menyebar-luaskan Kerajaan-Nya dan kasih-Nya ke seluruh dunia.
Yesus adalah seorang Raja yang ingin menaklukkan dunia, akan tetapi tidak melalui peperangan atau perampasan hak-hak orang-orang lain. Sebaliknya, Dia ingin membawa perdamaian dan kebahagiaan melalui keadilan dan kasih. Yesus telah mempercayakan penyebaran Kerajaan-Nya kepada kita (lihat Mat 28:19-20), saudari-saudara-Nya dan anak-anak Bapa-Nya. Sebenarnya Yesus dapat melakukan semuanya itu sendiri saja, namun Ia menginginkan kita untuk bekerja sama dengan-Nya dalam membawa kepenuhan bagi dunia. Kita menantikan kedatangan kembali Yesus Kristus dalam pengharapan penuh sukacita. Akan tetapi pada saat ini pekerjaan kita demi tercapainya sebuah dunia yang lebih baik memberi makna pada kata-kata yang kita ucapkan kepada Kristus sang Raja: “Sebab Engkaulah raja yang mulia dan berkuasa untuk selama-lamanya!” (Embolisme setelah doa Bapa Kami dalam Misa Kudus).
DOA: Tuhan Yesus, aku menyembah Engkau sebagai Rajaku! Aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu bahwa Engkau sungguh melindungiku, memperhatikanku, dan mendengarku apabila aku berseru kepada-Mu. Berikanlah kepadaku kebaikan-Mu dan belas kasih-Mu setiap hari sepanjang hidupku. Semoga aku dapat berdiam bersama-Mu dalam Kerajaan-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.
Cilandak, 15 November 2012 [Pesta wafatnya B. Marie de la Passion, Pendiri Kongregasi FMM]
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PILIHAN-PILIHAN

PILIHAN-PILIHAN
(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Andreas Dung Lac, Imam dkk. Martir – Sabtu, 24 November 2012)

Kemudian datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya, “Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seseorang yang mempunyai saudara laki-laki, mati, sedangkan istrinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itu dan memberi keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, merekanya semuanya mati tanpa meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia.” Jawab Yesus kepada mereka, “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Mereka tidak dapat mati lagi, sebab mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam cerita tentang semak duri, di mana ia menyebut sebagai Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata, “Guru, jawab-Mu itu tepat sekali.” Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus. (Luk 20:27-40)
Bacaan Pertama: Why 11:4-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1,2,9-10
Pilihan-pilihan memang dapat menyakitkan. Dalam kondisi kita sebagai manusia, setiap pilihan yang kita buat atau keputusan yang kita ambil akan membatasi kita. Apabila saya melakukan “ini”, maka saya tidak dapat melakukan “itu”. Apakah konsekuensinya apabila saya mengambil pekerjaan lain? Apakah saya harus mengatakan “tidak” terhadap godaan yang begitu menggiurkan? Apakah saya harus mengupayakan “rekonsiliasi” dengan pasangan hidupku sebelum terlambat?
Orang-orang Saduki yang kali ini mencobai Yesus tidak percaya adanya kebangkitan, artinya kehidupan setelah kematian fisik. Kalau pun mereka membayangkan kehidupan sedemikian (agar dapat mengejeknya atau menertawakannya), maka mereka mencampur-adukkannya dengan batasan-batasan kehidupan ini. Seturut ketentuan Hukum Levirat yang sebenarnya bertujuan mengabadikan nama seorang laki-laki yang sudah mati, tujuh orang bersaudara secara berturut-turut mengawini seorang perempuan yang sama. Pada saat kebangkitan, status perempuan itu sebagai istri dari laki-laki yang mana? Tidak bisa sebagai istri dari semuanya, bukan?
Menanggapi pertanyaan orang-orang Saduki ini, Yesus dapat saja menjawab, “Ah, kau ini. Mengapa tidak? Mengapa semua manusia yang dibangkitkan tidak dapat menikmati keintiman yang setara? Kemiskinan imajinasimu tentunya tidak membuat kau berpikir sampai ke situ!”
Yesus memang seorang pribadi yang penuh dengan hikmat Allah sendiri. Dia menerima visi orang Saduki tentang perkawinan yang akurat-namun-terbatas itu dan mengupayakan agar konsepsi mereka tentang surga dapat diperluas. Bagaimana kiranya relasi dalam surga? Yesus menunjuk kepada relasi intim Allah dengan para pahlawan besar dalam Kitab Kejadian, salah satu dari sedikit kitab-kitab Perjanjian Lama yang diterima oleh orang-orang Saduki konservatif. Allah menyatakan diri-Nya kepada Yakub sebagai “Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak” (lihat Kej 28:13). Allah tidak mengatakan bahwa Dia pernah menjadi Allah Abraham sampai bapa bangsa itu wafat, atau Dia akan menjadi Allah Yakub hanya setelah Ishak meninggal dunia. Tidak, Allah mampu untuk menjalin relasi dengan setiap pribadi yang mencari-Nya, dan relasi itu “diubah, bukan diakhiri” pada saat eksistensi kita di atas bumi berakhir.
Di dalam surga, tidak akan ada penyesalan-penyesalan, batasan-batasan, pilihan-pilihan yang buruk. Sebaliknya, di sana akan ada kesempatan-kesempatan untuk eksplorasi yang tanpa akhir, keintiman yang tanpa batas dengan Allah dan masing-masing anak-Nya yang teramat dikasihi-Nya. Pilihan-pilihan tanpa batas ini telah dibuka bagi kita karena pilihan yang paling esensial. Sebelum pilihan penuh kesadaran yang kita buat, Allah memilih masing-masing kita sebagai milik-Nya sendiri. Setelah banyak pilihan penuh kedosaan yang kita buat, Allah memilih untuk membuat batasan atas diri-Nya sendiri lewat misteri inkarnasi sampai kematian di atas kayu salib. Untuk itu sudah sepantasnyalah bila kita senantiasa berterima kasih penuh syukur kepada Allah untuk kebaikan-Nya. “Allah memang baik; Dialah kebaikan yang sempurna, segenap kebaikan, seluruhnya baik, kebaikan yang benar dan tertinggi; Dialah satu-satunya yang baik!”
DOA: Tuhan Yesus, Engkau telah mengikat diri-Mu kepada kami masing dalam kasih. Persatukanlah kami dengan Engkau dan transformasikanlah semua pilihan kami menjadi tanggapan-tanggapan terhadap kasih-Mu yang besar dan agung. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Why 11:4-12), bacalah tulisan yang berjudul “DUA ORANG SAKSI ALLAH” (bacaan tanggal 24-11-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2012.
Berkaitan dengan Bacaan Injil hari ini (Luk 20:27-40), silahkan baca tulisan berjudul “ORANG SADUKI DAN SOAL KEBANGKITAN” (bacaan tanggal 19-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM, dan “KITA DIMAKSUDKAN UNTUK MENJADI ANAK-ANAK KEBANGKITAN (bacaan tanggal 19-11-11) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 14 November 2012 [Peringatan S. Nikolaus Tavelic, Imam dkk. – Martir]
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

GEREJA YANG SUCI NAMUN HARUS SENANTIASA DIBERSIHKAN

GEREJA YANG SUCI NAMUN HARUS SENANTIASA DIBERSIHKAN
(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Jumat, 23 November 2012)

Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka, “Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.”
Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa itu berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab semua orang terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia. (Luk 19:45-48)
Bacaan Pertama: Why 10:8-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:14,24,72,103,111,131
Menjual hewan kurban dan menukar uang asing merupakan jasa pelayanan yang memang diperlukan untuk kepentingan para peziarah yang datang ke kota Yerusalem. Pada kenyataannya, sejumlah “pasar” itu berlokasi di dekat Bait Suci. Namun di bawah kepengurusan imam besar Kayafas, halaman bagian luar Bait Suci juga menjelma menjadi pasar yang ramai. Penyusupan tempat berdagang ini ke dalam halaman bangunan suci ini sungguh tidak berkenan di mata sejumlah orang, namun apa daya …… karena tempat itu dikelola oleh para petugas Bait Suci……. mereka yang memegang kekuasaan di bidang keagamaan.
Bayangkanlah betapa hiruk-pikuknya tempat seperti itu: Domba-domba mengembik keras sambil mengeluarkan aroma yang tidak sedap, burung-burung dara mengepak-ngepakkan sayap dan gemerincing uang-uang logam para penukar uang sungguh mengganggu telinga. Bayangkanlah betapa sulitnya dan tidak nyamannya “orang-orang yang takut kepada Allah” (mereka adalah non-Yahudi) yang hanya diperbolehkan masuk sampai batas itu saja, tidak boleh masuk lebih jauh lagi. Oleh karena itu Yesus mengusir para pedagang karena Dia ingin memelihara Bait Suci sebagai tempat doa bagi setiap orang. Yesus tentunya juga merasa terganggu dengan para pedagang yang mendongkrak nilai tukar mata uang atau menjual hewan-hewan kurban dengan harga “setinggi langit”. Praktek-praktek sedemikianlah yang membuat Yesus dengan geram menyatakan, “Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” (Luk 19:46).
Sebagaimana halnya dengan para imam di Bait Allah dan para administratur pada zaman Yesus, kita manusia zaman modern yang adalah para anggota Gereja juga menghadapi banyak perangkap. Kepentingan diri-sendiri senantiasa ingin menguasai hati dan tindakan-tindakan kita. Di dunia Barat mereka yang dinamakan “Katolik konservatif” dan “Katolik Liberal” tergoda untuk saling mengkritisi dengan keras. Dewan paroki dapat merupakan ajang pertikaian dan konflik, juga arena clash antara pribadi-pribadi yang duduk di sana, lebih daripada hasrat yang tulus untuk membangun Gereja. “Ketiadaan doa” setiap saat dapat merampas kita dari “sukacita dan damai-sejahtera” yang senantiasa harus menjadi “tanda” dari orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Kalau begitu halnya, bagaimana kita masih tetap menyatakan, bahwa kita percaya pada Gereja yang “satu, kudus, katolik dan apostolik”? Jawabnya: Karena Gereja itu sebuah institusi yang bersifat insani dan pada saat yang sama bersifat ilahi. Dengan begitu, kekudusan Gereja adalah “riil”, namun juga “tidak sempurna” (lihat “Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium tentang Gereja”, 48). “Gereja itu suci, dan sekaligus harus selalu dibersihkan, serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaharuan” (Lumen Gentium, 8).
Masing-masing kita dapat berpartisipasi dalam pembaharuan Gereja yang berkesinambungan melalui doa-doa kita, dan lewat upaya yang tulus untuk senantiasa berjalan dalam kasih Tuhan. Marilah kita bersama-sama bergabung dalam gerakan pembaharuan Gereja, “supaya tanda Kristus dengan lebih cemerlang bersinar pada wajah Gereja” (Lumen Gentium, 15).
DOA: Tuhan Yesus, bersihkanlah hati kami dari segala hal yang merusak citra-Mu dalam diri kami. Tolonglah kami agar dapat mencerminkan kekudusan-Mu dan kebaikan-Mu kepada setiap orang yang melihat Gereja-Mu. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Why 10:8-11), bacalah tulisan yang berjudul “TERASA MANIS DI MULUT, TETAPI PAHIT DI PERUT” (bacaan tanggal 23-11-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2012.
Berkaitan dengan Bacaan Injil hari ini (Luk 19:41-44), silahkan membaca juga tulisan yang berjudul “YESUS MENYUCIKAN BAIT ALLAH” (bacaan tanggal 18-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM, juga tulisan yang berjudul “RUMAH-KU ADALAH RUMAH DOA (bacaan tanggal 18-11-11) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 11 November 2011 [Peringatan S. Martinus dari Tours, Uskup]
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MENANGIS

YESUS MENANGIS
(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Sesilia, Perawan & Martir – Kamis, 22 November 2012)

Ketika Ia telah mendekati dan melihat kota itu, Yesus menangisinya, kata-Nya: “Alangkah baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, ketika musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan. Mereka akan membinasakan engkau beserta dengan penduduk yang ada padamu, dan mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat ketika Allah datang untuk menyelamatkan engkau.” (Luk 19:41-44)
Bacaan Pertama: Why 5:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9
Sang penulis Injil – Lukas – seringkali menggunakan kontras-kontras yang kuat dalam berbagai narasinya. Misalnya dalam perumpamaan tentang orang kaya dan pengemis Lazarus (Luk 16:19-31), orang Farisi dan pemungut cukai (Luk 18:9-14). Bacaan Injil hari ini didahului dengan nyanyian-nyanyian penuh sukacita para murid yang mengiringi-Nya ketika rombongan-Nya mendekati Yerusalem – peristiwa yang dalam liturgi Gereja dikenal sebagai “Hari Minggu Palma”. Dengan suara nyaring mereka mereka memuji-muji Allah oleh karena segala mukjizat yang telah mereka lihat. Mereka menyanyikan Mazmur: “Terpujilah dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di surga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!” (Mzm 118:26). Bagaimana dengan Yesus? Ia memandang kota Yerusalem, kemudian menangisi kota suci itu dan berkata: “Alangkah baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu!” (Luk 19:42). Kemudian Yesus melanjutkan pernyataan-Nya itu dengan nubuatan-Nya tentang keruntuhan kota Yerusalem (Luk 19:43-44).
Yerusalem sebenarnya dapat menjadi pusat utama Kekristenan (Kristianitas), pusat dari mana pesan Kristiani dapat menyebar ke seluruh penjuru dunia. Karena penolakannya terhadap sang Mesias, maka Yerusalem hanya sebentar saja menjadi pusat penyebaran Kabar Baik Yesus Kristus. Pada tahun 70 kota itu praktis dihancur-leburkan oleh orang Romawi. Yesus sudah melihat peristiwa keruntuhan kota Yerusalem itu jauh hari sebelum terjadinya.
Oleh karena itulah Yesus menangisi kota Yerusalem. Ia mengetahui apa yang akan menimpa kota itu karena penduduknya menolak rahmat Allah. Sebenarnya para penduduk kota Yerusalem dapat mengetahui apa yang akan terjadi, namun mereka tidak mau mendengarkan sabda Allah. Mereka menolak Kristus!
Bagaimana dengan kita sendiri? Banyak dari rahmat Allah seringkali datang kepada kita dalam bentuk ajaran Gereja, yang dimaksudkan untuk mempersiapkan diri kita agar dapat menjalani kehidupan Kristiani yang benar seturut ajaran Kristus sendiri, membimbing serta menuntun kita, dan memberikan kepada kita Sabda yang kudus dari Allah sendiri. Apakah kita memanfaatkan bimbingan serta tuntunan Allah melalui Gereja, dengan demikian memperoleh pengenalan sejati tentang apa saja yang benar dan/atau salah; juga bertumbuh dalam nilai-nilai Kristiani yang sejati?
Atau, apakah Yesus Kristus harus menangisi kita juga? Apakah Dia harus menangisi keluarga kita, komunitas kita, atau kota-kota kita? Apakah Dia harus menangis karena iman-kepercayaan kita yang lemah, karena kita tidak menaruh kepercayaan kepada-Nya, atau bahkan menolak diri-Nya? Apakah Dia menangis karena kita menolak untuk mendengarkan sabda-Nya atau bimbingan serta tuntunan dari Gereja-Nya?
DOA: Tuhan Yesus, kami sungguh tahu dan mengenal jalan menuju damai-sejahtera yang sejati, karena hal itu ada dalam Sabda-Mu, Gereja-Mu, yaitu Tubuh-Mu sendiri di atas bumi. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Why 5:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “KITAB YANG DIMETERAI DAN ANAK DOMBA” (bacaan tanggal 22-11-12) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 12-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2012.
Berkaitan dengan bacaan Injil hari ini, upayakanlah untuk membaca tulisan yang berjudul “YESUS MENANGISI KEJATUHAN KOTA YERUSALEM” (bacaan tanggal 17-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM, dan “ALANGKAH BAIKNYA JIKA PADA HARI INI JUGA ENGKAU MENGERTI APA YANG PERLU UNTUK DAMAI SEJAHTERAMU” (bacaan tanggal 17-11-11) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 14 November 2012 [Peringatan s. Nikolaus Tavelic, Imam dkk. Martir]
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ORANG PENTINGKAH KITA?

ORANG PENTINGKAH KITA?
(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria Dipersembahkan kepada Allah – Rabu, 21 November 2012)

Sementara mereka mendengarkan hal-hal itu, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan. Lalu Ia berkata, “Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali. Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali. Akan tetapi, orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami. Setelah dinobatkan menjadi raja, ketika ia kembali ia menyuruh memanggil hamba-hambanya yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing. Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina. Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam hal yang sangat kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota. Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina. Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota. Lalu hamba yang lain datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan. Sebab aku takut kepada Tuan, karena Tuan orang yang kejam; Tuan mengambil apa yang tidak pernah Tuan taruh dan Tuan menuai apa yang tidak Tuan tabur. Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. Engkau sudah tahu bahwa aku orang yang keras yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang tidak aku tabur. Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kau kaumasukkan ke bank (orang yang menjalankan uang)? Jadi, pada waktu aku kembali, aku dapat mengambilnya dengan bunganya. Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ: Ambillah mina yang satu itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu. Kata mereka kepadanya: Tuan, ia sudah mempunyai supuluh mina. Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, juga apa yang ada padanya akan diambil. Akan tetapi, semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku.”
Setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. (Luk 19:11-28)
Bacaan Pertama: Why 4:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 150:1-6
Apabila seseorang bertanya kepada anda pada hari ini, “Apakah anda pikir anda adalah orang yang paling penting di dunia pada hari ini?”, apakah jawaban anda? Sebagian besar orang tentunya akan menjawab, “Tidak!”
Tidakkah anda menyadari bahwa Yesus dalam bacaan Injil hari ini berkata: “Anda salah, sahabat-Ku. Anda sangat salah!” Tidakkah anda mengetahui bahwa di mana-mana dalam Kitab Suci, teristimewa dalam keempat kitab Injil, Tuhan Yesus terus mengatakan bahwa masing-masing kita adalah seorang pribadi yang penting di mata-Nya.
Inilah pesan dari perumpamaan Yesus pada hari ini: Orang yang menguburkan talenta yang diberikan Allah kepadanya terlalu memandang rendah dirinya sendiri. Seakan-akan ia mengatakan, “Setiap orang mengetahui bahwa diriku tidaklah penting, jadi apa artinya dengan sedikit talenta yang kumiliki? Biarlah orang-orang pintar itu yang menjalankan dunia kalau mereka merasa mampu melakukannya. Bakat-bakat yang kumiliki tidak pantaslah untuk diperhitungkan.”
Dan Yesus mengatakan dalam perumpamaan, “Tuhan tidak dapat dikecohkan dengan hal itu. Dia mengetahui sekali apa yang anda dapat atau tidak dapat lakukan. Ada banyak hal yang anda dapat lakukan dengan talenta-talenta yang diberikan Allah kepada anda, dan jangan coba untuk menipu diri anda sendiri. Kita tidak dapat membodohi Allah, sebab itu mengapa kita harus membodohi diri kita sendiri? Apalagi kita juga mengetahui bahwa akan meminta pertanggungan-jawaban dari kita sehubungan dengan bagaimana caranya kita menggunakan setiap anugerah-Nya kepada kita masing-masing.
Barangkali kita berpikir bahwa diri kita tidak penting karena kita tidak yakin apa yang sebenarnya penting. Oleh karena itu, marilah kita menghadap Pribadi yang paling penting dalam sejarah. Marilah kita bertanya kepada-Nya apakah yang harus kita lakukan untuk menjadi seorang pribadi yang sungguh-sungguh penting.
Pribadi yang paling penting itu adalah Yesus, dan ia bersabda: “Siapa saja yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Mat 23:11). Yang dimaksudkan Yesus di sini adalah: “Apa yang anda lakukan demi cintakasih kepada Allah dan sesamamu, itulah yang sungguh penting.”
DOA: Bapa surgawi, Engkaulah Allah, Pencipta langit dan bumi. Engkau telah membuat kami menjadi anak-anak-Mu dan juga saudari-saudara dari Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Apa lagi yang dibutuhkan oleh kami? Menjadi anak-anak-Mu dan saudari-saudara Yesus Kristus sudah cukuplah untuk membuat diri kami masing-masing merasa penting. Ajarlah kami untuk hidup sebagai anak-anak-Mu yang sejati, yang mengakui pentingnya diri kami sebagai anggota-anggota keluarga-Mu. Amin.
Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Why 4:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “DIKAU LAYAK MENERIMA PUJI-PUJIAN DAN HORMAT DAN KUASA” (bacaan tanggal 21-11-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2012.
Berkaitan dengan dengan Bacaan Injil hari ini (Luk 19:11-28), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG UANG MINA” (bacaan tanggal 18-11-09) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 13 November 2012 [Peringatan S. Didakus dari Alkala – Biarawan]
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

1 like,komen,fb:

Wencu Korung mengatakan...

add disni yah....?